twitter


Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallama pernah bersabda:

نِعْمَتَانِ مَعْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat, dimana banyak orang yang terlena karena keduanya. Yaitu kesehatan danwaktu luang.” (HR. Bukhari)

Ibnul Jauzi berkata: “Adakalanya orang itu sehat, tetapi tidak punya waktu luang. Dan Adakalanya seseorang itu punya waktu luang dan berbadan sehat, tapi ia malas melakukan ketaatan kepada Allah, maka keduanya termasuk orang yang merugi.

Apabila terkumpul pada diri seseorang itu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan kemanfaatan di dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya. Karena itu, Allah Ta’ala menyebut hari kiamat dengan Yaum At-Taghabun (hari di tampakkanya kesalahan-kesalahan) : “(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, Itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan…” (At-Taghabun [64] : 9)

            Artinya, setiap orang akan ditampakkan kesalahan dan kerugiannya. Orang kafir akan mengalami kerugian, karena ia tidak mau beriman kepada Allah Ta’ala. Dan orang mukmin juga akan ditampakkan kerugiannya, karena ia tidak dapat memanfaatkan sebagian waktu yang dilewatinya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.
            Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallama bersabda :

لَيْسَ يَتَحَسَّرُ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَّا عَلَى سَاعَةٍ مَرَّتْ بِهِمْ لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيهَا

“Penghuni surga itu tidak akan mengalami penyesalan, kecuali penyesalan atas waktu yang telah mereka lewati, dan mereka tidak dapat mempergunakan waktu itu untuk mengingat Allah.”

            Inilah bentuk penyesalan yang dialami oleh penghuni surga, lantaran mereka tidak mampu mempergunakan waktu untuk mengingat nama Allah. Lantas, bagaimana menyesalnya orang yang telah menghabiskan waktunya berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun selama hidupnya untuk bermaksiat kepada Allah dan untuk mengumbar syahwat dalam lembah-lembah kemaksiatan? Tentu, kerugian dan penyesalan justru akan lebih besar dan lebih hebat lagi.

            Maka dari itu, hendaknya setiap orang senantiasa mengingat-ingat sabda Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallama yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud :

لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Pada hari kiamat nanti telapak kaki manusia tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya, sampai ia ditanya tentang lima perkara, yakni tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, dan tentang waktu mudanya dalam hal apa ia sia-siakan, tentang hartanya darimana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, dan apa yang telah ia perbuat dari ilmunya.”

Dunia merupakan ladang akhirat dan di dalamnya terdapat bisnis yang keuntungannya hanya bisa terlihat di akhirat nanti. Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luangnya dalam rangka taat kepada Allah, maka ia termasuk orang yang beruntung.” Oleh karena itu, jangan sampai kita menyesal setelah segala sesuatunya tidak berarti lagi, penyesalan yang tiada guna dan  tiada arti. Apabila tidak dari sekarang kita beramal membekali diri, niscaya akan sangat banyak bentuk penyesalan yang akan kita alami.

Di antara penyesalan itu adalah:

1. Penyesalan pada saat Kiamat Kecil
Kiamat kecil yang dialami manusia adalah kematian. Seseorang mulai menyesal ketika detik-detik akhir usianya dan meyakini nyawanya tidak lama lagi keluar dari tubuhnya. Seperti, apa yang Allah firmankan:

وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabb-mulah pada hari itu kamu dihalau.” [QS. Al-Qiyamah (75): 28-30]

Saat itu, ia ingat ribuan jam yang tidak ia gunakan untuk taat kepada Allah dan ia berharap dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih. Itulah penyesalan pertama seseorang. Ia berharap diberi kesempatan kembali ke dunia untuk beramal shalih. Ia lupa dirinya sedang berbicara dengan Dzat yang mengetahuimata yang berkhianat dan apa yang dirahasiakan hati. Allah telah mengetahui kebohongannya. Andai ia dikembalikan ke dunia, ia pasti bermaksiat lagi dan malas mengerjakan kebaikan. Karena itu, permintaannya dijawab dengan jawaban yang tegas.

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {100}

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan”. [QS. Al-Mu’minun (23): 99-100].

2. Penyesalan Karena Salah Memilih Sahabat
Penyesalan seperti ini terjadi ketika seseorang di akhirat melihat sahabat karibnya menelantarkan dirinya dan tidak berdaya membelanya di sisi Allah. Saat-saat ngobrol, canda dan tawa, begadang, pesta pora di meja judi dan minum-minuman keras waktu di dunia. Mereka semua tidak dapat menyelamatkan diri dari kondisi yang ia hadapi nanti di akhirat. Walaupun ketika di dunia mereka saling tolong menolong, dalam perbuatan dosa. Ia lihat penghuni neraka yang paling ringan siksanya ialah orang yang dua bara diletakkan di atas telapak kakinya, lalu otaknya mendidih. Penghuni neraka itu mengira tidak ada orang yang lebih berat siksanya dari dirinya. Padahal, ia penghuni yang paling ringan siksanya. Saat itulah…

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً {27}
 يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً {28}
 لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنسَانِ خَذُولاً {29}

“Dan ingatlah hari ketika orang yang zalim itu menggigit kedua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya aku mengambil jalan yang lurus bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan menjadi teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari al-Qur’an ketika telah datang kepadaku. Dan syetan itu tidak akan menolong manusia.”

Ditafsirkan bahwa: “Ia tidak hanya menggigit satu tangan tetapi menggigit kedua tanganya secara bergantian atau menggigit kedua tangannya sekaligus karena begitu beratnya penyesalan itu. Hal itu adalah gerakan yang menggambarkan kondisi kejiwaan yang terlihat nyata. Dan itulah akibat karena bersahabat dengan teman-teman yang jahat dan memusuhi orang-orang yang shaleh di dunia”. (Sayyid Quttub)

3. Penyesalan Saat Amal Diperlihatkan
Ketika buku catatan amal perbuatan dibagikan dan manusia melihat seluruh perbuatannya, tiba-tiba pelaku maksiat terkejut bukan kepalang, saat melihat isi buku itu. Ternyata, buku itu menulis semua kata yang ia ucapkan puluhan tahun yang silam dan merekam seluruh perbuatan maksiat yang ia kerjakan di balik pintu kokoh dan kegelapan malam. Saat itu, Ia berteriak dengan penuh penyesalan.

مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَيُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلاَكَبِيرَةً إِلآ أَحْصَاهَا

Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” [QS. Al-Kahfi (18): 49]
Ia lupa kalau ia disertai malaikat yang selalu mencatat kemaksiatan dan kebaikan walaupun sebesar dzarrah. Ia berharap mati saja daripada melihat konsekuensi siksa yang sudah menanti. Ia pun ingat bahwa ternyata harta, jabatan dan kekuasaan yang ia kira bermanfaat baginya, semua itu sama sekali tidak berguna baginya saat sekarang. Sekarang yang bisa menyelamatkannya ini hanyalah amal sholehdan rahmat Allah:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ {25} وَلَمْ أَدْرِ مَاحِسَابِيَهْ {26} يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ {27} مَآأَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ {28} هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ {29}

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku, Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu, Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku”. (QS. Al Haaqqah [69]: 29).

            Di dunia dulu ia ingin hidup selama mungkin, sekarang di akhirat kita lihat dia ingin mati saja. Bentuk-bentuk penyesalan pada saat itu beragam. Setiap kali pelaku maksiat melihat satu bentuk siksaan, maka ia akan ingat waktu yang dulu ia sia-siakan yang ia tidak gunakan untuk ta’at kepada Allah serta beribadah kepada-Nya.

 4. Penyesalan saat Neraka di datangkan
Rasulullan sholallohu ‘alaihi wa sallama bersabda; “Ketika itu neraka akan didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang. Dan pada setiap tali kekangnya terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya. (HR. Muslim).
Ia akan mendengar dengusan nafas dan kemarahan neraka Jahannam saat berteriak dengan teriakkan menakutkan; “Apakah masih ada tambahan untukku? Apakah masih ada tambahan untuk penghuniku?”. Ketika itu pelaku maksiat ingat saat-saat berlaku maksiat, malas, dan menunda-nunda amal shaleh, menipu Allah dengan tobat palsu, dan waktu –waktu yang hilang dengan sia-sia. Tapi..sekali lagi nostalgia kenangan itu tidak ada gunanya. Saat itulah ia akan berkata; “Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan amal shaleh untuk hidupku ini”. Kita lihat terdapat kesedihan yang mendalam di balikharapan itu, dan inilah kondisi yang paling menyakitkan yang dirasakan seseorang di akhirat kelak.

5. Penyesalan Saat Berdiri di Neraka
Allah berfirman:

وَلَوْ تَرَىإِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَالَيْتَنَا نُرَدُّ وَلاَنُكَذِّبُ بِئَايَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata:”Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”. (tentulah kami melihat suatu peristiwa yang mengharukan).”  [QS. Al-An’am (6): 27]

Sungguh aneh, ketika di akhirat orang-orang itu berkata, “Wahai seandainya kami menjadi orang-orang beriman.” Padahal, mereka dahulu memerangi para pendakwah islam, pendakwah kalimat tauhid dan melecehkan siapa saja yang mengajak kepadanya. Kenapa kini, di akhirat, mereka berharap ingin menjadi orang-orang beriman? Kenapa itu baru terlontar sekarang dan tidak di dunia dahulu? Itulah kemunafikan yang menempel pada mereka, kendati mereka berdiri di depan neraka menyaksikan kedahsyatannya.

Selanjutnya bentuk penyesalan yang akan kita alami, apabila kita tidak menggunakan waktu dengan ketaatan kepada Allah adalah

6. Penyesalan Setelah Dilempar ke Neraka
Allah berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَآ أَطَعْنَا اللهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ وَقَالُوا رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ رَبَّنَآ ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ’Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul dan mereka berkata: “Ya Rabb Kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. [QS. Al-Ahzab (33): 66-68].

            Ibnu Katsir berkata; “Maksudnya mereka di seret di neraka dengan kepala terbalik dan wajah mereka di bolak-balikkan di Jahannam. Dan mereka berharap di kembalikan ke dunia, agar mereka akan bersama orang-orang yang taat.


Sekarang mereka baru tahu, ternyata jalan yang dahulu mereka tempuh adalah jalan yang salah, sebab mereka mengikuti tokoh-tokoh mereka yang berjalan di jalan setan, jalan yang bertentangan dengan jalan Islam, jalan al-Qur’an, jalan sunnah Rasulullah . Nanti di akhirat, mereka berani mengutuk pemimpin-pemimpin mereka dan bicara kepada mereka dengan bahasa lantang, sebelumnya di dunia mereka hidup sebagai pengecut, hina tidak berani mengatakan kebenaran dan tidak punya nyali menolak kemungkaran, walaupun dia tahu bahwa semua itu jelas-jelas bukan jejak dan perilaku Rasulullah   dan orang –orang yang beliau muliakan. Setelah mereka dilemparkan ke neraka dan merasakan siksanya, perasaan mereka yang tadinya membeku itu hidup kembali dan mereka menyesal kenapa tidak mengikuti jalan Allah dan Rasul-Nya sholallohu ‘alaihi wa sallama . Tapi, waktu untuk itu, sudah tidak ada lagi, karena di dunia inilah semua ujian itu harus dihadapi dan disikapi, bukan di akhirat.


Rasulullah SAW berpesan kepada Siti Fatimah az-Zahra (as), putri tercintanya: 
“Hai Fatimah, jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu:

1.     Sebelum mengkhatamkan Al-Qur’an
2.     Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di Hari Akhir
3.     Sebelum para Muslim meridhaimu
4.     Sebelum kau laksanakan Haji dan Umrah”

Sang putri yang Sayyidatun Nisa I’ll ‘Alamin itu bertanya kepada ayahnya: “Ya Rasulullah.. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”

Terima kasih kepada Kang Abdi Ole Leho, yang mengijinkan saya membagi tulisan beliau di Facebook-nyake dalam blog ini.
Rasul yang mulia tersenyum dan bersabda: “Sebelum engkau tidur (lakukan ini):
1. Bacalah Surat Al-Ikhlas tiga kali, dengan begitu seakan-akan kau mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an.” [Bismillaahir rahmaanir rahiim, Qulhuallaahu ahad’ Allaahushshamad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ (3x)].
2.     Bacalah solawat untukku dan para Nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafa’at di hari kiamat“. [Bismillaahir rahmaanir rahiim, Allaahumma shallii ‘alaa  Muhammad wa aali  Muhammad (3x)].
3.     Beristighfarlah (memohonkan ampunan) untuk para Muslimin, maka mereka semua akan meridhaimu“.[(Astaghfirullaahal ‘adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, dzul jalaali wal ikram wa atuubu ilaih (3x)]
4.  Perbanyaklah bertasbih (menyucikan Allah),  bertahmid (mensyukuri Allah), bertahlil (mentauhidkan Allah) dan bertakbir (mengagungkan Allah), maka seakan-akan kau telah melaksanakan ibadah Haji dan Umrah“. [Bismillaahir rahmaanir rahiim, SubhanAllaahi alhamdulillaahi walaa ilaaha illa Allahu wAllaahu akbar (3x)]

Al-ikhlas – salah satu surat terpenting dalam Al-Quran
Selanjutnya, Nabi SAAW juga mengajarkan kepada the Lady of Light ini satu hal yang jauh lebih penting dari permintaan sederhananya melalui suaminya, Imam Ali bin Abithalib (as).

Ceritanya begini.
Suatu hari Imam Ali melihat Sayyidah Fatimah kepayahan menumbuk gandum, mengerjakan pekerjaan rumahnya sambil memomong Imam Hasan dan Imam Husain yang masih kecil. Imam Ali melihat tangannya luka-luka karena pekerjaan yang begitu berat. Beliau selanjutnya mengusulkan untuk memohon bantuan Rasulullah dengan meminjamkan tawanan/sahaya untuk membantu Fatimah.
Fatimah malu untuk melakukan itu dan akhirnya Imam Ali menyampaikannya sendiri. Namun Rasulullah yang terharu dengan penderitaan putri tercintanya tak dapat mengabulkan permohonan Sayyidah Fatimah. Imam Ali pulang dengan tangan hampa.

Malam hari menjelang tidur Baginda Rasul SAAW menyambangi rumah Ahlul Bayt ini dan bersabda kepada Fatimah. “Hai Fatimah, inginkah engkau kuberi sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang engkau minta hari ini?”

Tentu saja Sayyidatun Nisa I’ll ‘Alamin ini mengiyakan. Rasul selanjutnya bersabda, “yaitu engkau membaca‘Allahu Akbar‘ 34x, ‘Alhamdulillah‘ 33x dan ‘Subhanallah‘ 33x, sebelum tidur dan sesudah salat.”
Wirid di atas selanjutnya disebut ‘Tasbih Az-Zahra‘.

Pada waktu Rasulullah wafat, Siti Fatimah (as) merasakan kehilangan yang luar biasa. Setiap hari beliau mengunjungi makam ayahnya, sang ‘Kekasih Allah’ itu, biasanya sambil memeluk dan menggenggam kubur Baginda Rasul.

Suatu saat beliau mengambil tanah dari kubur tersebut dan membuat butiran-butiran tanah yang selanjutnya digunakan sebagai alat untuk menghitung Tasbih Az-Zahra di atas. Inilah asal muasalnya tasbih yang kita kenal sekarang. Tasbih mengunakan butiran-butiran itu sunnah Keluarga (Ahlul Bait) Rasulullah SAAW.






Sebuah pepatah mengatakan setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Setiap sesuatu yang datang pasti akan pergi. Setiap yang lahir pasti akan mati. Tidak ada yang tetap di dunia ini, semuanya akan berubah. Yang Maha Kekal hanyalah Allah SWT. Hal itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾

Artinya: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan (yang) tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Q.S. Ar-Rahmaan (55):26-27)

Hidup ini memang terkadang tidak bisa memilih. Kita tidak bisa menghindar dari bagian pahit dari kehidupan. Seuatu ketika seseorang harus kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Karena itu semua adalah bagian dari kehidupan kita. Semuanya harus diterima dengan lapang dada sebagaimana ketika pertama kali menerima orang yang dicintai tersebut. Memang sudah menjadi sunnatullah bahwa sesuatu itu ada dan tiada. Berawal dari tidak ada kemudian jadi ada dan terakhir nantinya akan kembali menjadai tiada. Itu adalah hal yang sudah pasti dan tidak ada yang bisa menawar atau menghindar.

Namun terkadang banyak diantara kita yang tidak bisa melihat dari sisi yang lain dari hilangnya orang tercinta. Kita biasanya hanya melihat dari sisi ‘kita’nya tanpa berusaha melihat dari sisi-sisi lainnya, sehingga ketika ada orang yang dicintai telah pergi, kita langsung mengukur dan menilainya berdasar sudut pandang kita. Maka ketika hal itu tidak sesuai dengan keinginan atau bertentangan dengan apa yang kita harapkan, tentu kita tidak akan begitu saja menerima apa yang telah terjadi itu. Kita sering kali menyalahkan orang lain atau sesuatu faktor lain atas kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bahkan tidak jarang ada orang yang secara tidak tahu diri dan begitu sombongnya sampai-sampai berani menyalahkan Allah SWT atas perginya orang yang dicintainya. Sungguh malang nasib orang seperti itu.Naudzubillah min  dzaalik.” Hendaknya orang yang sedang merasakan kesedihan yang cukup mendalam berkaca kepada orang lain yang nasibnya jauh lebih sedih dan sakit dari pada apa yang telah menimpa padanya.

Simaklah sebuah kisah isra mi'raj Rasulullah SAW, berikut. 

Kalau kita baca sejarah hidup Rasulullah SAW, sebelum peristiwa isra’ mi’raj terjadi, Rasulullah SAW mengalami musibah duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal mati oleh istrinya tercinta, yang begitu setia menemani dan menghiburnya dikala orang lain masih mencemoohnya. Belum habis kesedihan beliau, lalu ditinggal oleh pamannya, Abu Thalib, yang sangat melindungi aktivitas Nabi SAW. Begitu sedih Rasulullah SAW, dalam waktu yang berdekatan ditinggal pergi selamanya oleh dua orang yang sangat dicintainya. Namun demikian Rasulullah SAW tetap sabar dan tidak putus asa menghadapinya. Beliau yakin bahwa Allah SWT pasti akan menghiburnya. Dan benarlah, beberapa waktu kemudian Allah SWT menghiburnya dengan perjalanan Isra’ mi’raj.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut adalah setiap kesedihan pasti akan diganti oleh Allah SWT dengan imbalan yang lebih baik. Tidak ada perbuatan yang lebih baik dari pada sabar bagi orang yang sedang dirudung kesedihan karena ditinggal pergi selamannya oleh orang-orang dekatnya. Karena sudah banyak bukti yang ditunjukkan Allah SWT kepada kita, bahwa seorang hamba yang ditinggal mati oleh orang dekatnya, kemudian dia bersabar pasti akan diganti dengan yang lebih baik.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, menyebutkan bahwa: “Anak Abu Thalhah menderita suatu penyakit, lalu meninggal dunia. Ketika itu, Abu Thalhah sedang bepergian. Tatkala istrinya mengetahui bahwa anaknya telah meninggal dunia, ia menyiapkan sesuatu dan meletakkannya di samping rumah. Ketika Abu Thalhah datang, dia bertanya?, Bagiamana keadaan anak kita?” Istrinya menjawab, “ jiwanya sudah tenang dan dia telah istirahat. Abu Thalhah menyangka bahwa istrinya jujur. Lalu dia menghabiskan malam itu (berkumpul dengan istrinya), dan ketika tiba waktu pagi, ia pun mandi junub. Ketika hendak bepergian, istrinya memberitahukan kepadanya bahwa anaknya telah meninggal. Setelah itu, ia shalat bersama Nabi SAW dan mengabarkan tentang apa yang terjadi padanya. Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Semoga Allah memberikan berkah untuk kalian berdua (atas apa yang kalian perbuat) pada malam itu. ‘Kemudian Sufyan menuturkan bahwa seorang laki-laki dari Anshar berkata, ‘Aku melihat keduanya memiliki sembilan anak yang seluruhnya hafal al-Qur’an.” (H.R. Bukhari (1301).

Berdasarkan hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa hanya dengan kehilangan satu orang yang paling dicintai, namun dihadapi dengan sabar, pasrah dan berdoa memohon kebaikan kepada Allah SWT, maka diganti dengan lebih banyak dan lebih baik.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira untuk menenangkan hati orang-orang yang ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintainya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah dua orang muslim yang meninggal diantara keduanya tiga orang anaknya yang belum baligh, melainkan Allah akan mengampuni keduanya karena karunia Allah kepada mereka.” (H.R. Imam Ahmad (3544).

Kita juga patut belajar kepada Urwah bin Zubair, ketika kakinya terpotong, ia berkata, “Segala puji bagi Allah SWT, Dia telah mengambil satu anggota badan dan masih memberikan nikmat lainnya yang lebih banyak. Allah mengetahui bahwa sama sekali aku tidak pernah berjalan untuk tujuan yang haram. “ lalu dikatakan kepadanya, ‘Anakmu telah terjatuh dari atas tembok sehingga lehernya patah lalu meninggal dunia.’ Maka Urwah pun menjawab: ‘Segala puji bagi Allah, jika Engkau telah mengambil satu anakku, Engkau masih menyisakan yang lainnya. Maka bagi-Mu segala pujian atas apa yang telah engkau ambil dan bagi-Mu segala pujian atas apa yang Engkau sisakan.” Demikianlah seharusnya kita bersikap apabila orang yang kita cintai diambil Allah SWT. sebab Allah SWT telah memberikan nikmat yang lebih banyak dan lebih besar selain itu. Mungkin saja kita telah menikmati pemberian Allah SWT selama puluhan tahun, lalu Allah hanya mengambil satu saja yang kita cintai. Maka, tidaklah patut kita berkeluh kesah apalagi putus asa.
Selain itu ada sebuah hadits qudsi yang memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang ikhlas ditinggal mati oleh orang yang dicintainya.

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَا مَلَكَ الْمَوْتِ قَبَضْتَ وَلَدَ عَبْدِي قَبَضْتَ قُرَّةَ عَيْنِهِ وَثَمَرَةَ فُؤَادِهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا قَالَ قَالَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ قَالَ ابْنُوا لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

Artinya: “Allah SWT berfirman kepada Malaikat Maut, sudahkah engkau cabut nyawa anak kesangan dan permatahati hamba-Ku?, Malaikat menjawab: ‘sudah’. Allah bertanya: ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku’. Malaikat menjawab: ‘hamba-Mu memuji-Mu dan ber-Istirja’ (mengucapkan Innalillahi wainnaa ilaihi raaji’uun). Kemudian Allah SWT berfirman: ‘Bangunkan rumah di surga untuknya dan berilah nama rumah itu dengan baitul hamdi.”(H.R. Imam Ahmad, 18893).

Kebanyakan hadits menyebutkan anak-anak saja yang dianggap orang-orang kesayangan. Karena memang secara umum anak-anak adalah kesayangan dan permati hati setiap orang tua, apabila buahhatinya hilang tentu menimbulkan kesedihan yang amat mendalam. Namun semua orang yang dicintai adalah termasuk dalam golongan ini, baik anak, bapak, ibu, suami, istri dan orang-orang dekat yang dicintainya.
Rasa cinta seseorang memang sangat mempengaruhi kehidupannya. Namun janganlah cinta kepada sang buah hati menjadikan lupa diri. Cinta yang berlebihan akan menyebabkan seseorang sangat bergantung kepadanya. Ketergantungan dan kecenderungan tersebut bisa melebihi ketergantungannya kepada Allah SWT. Apabila hal ini yang sudah terjadi maka akan menjadi sebab kesengsaraan, adzab dan kecelakaan. Betapa banyak orang-orang besar binasa karena ulah orang-orang yang dicintainya.

Barangsiapa bergantung kepada Allah SWT, cinta karena-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya, maka Allah SWT akan memuliakan dan mengangkatnya. Kita tidak tahu apakah orang-orang yang sangat kita cintai itu baik dan bermanfaat. Terkadang orang-orang yang kita cintai tersebut justru membuat bencana. Karena ini cinta yang paling utama adalah apabila disandarkan kepada Allah SWT. Ingatlah Nuh yang anak tercintanya mati tenggelam dalam banjir, namun dia tetap sabar dan berharap imbalan lebih baik dari Allah SWT dan dia tidak berputus asa. Demikian pula Nabi Muhammad SAW yang ditinggal oleh pamannya, dia tetap optimis berjuang menghadapi rintangan dan terus memohon pertolongan kepada Allah SWT dan akhirnya sukses membawa sinar keimanan di dunia.
Kematian bukanlah suatu siksaan. Bahkan kematian bagi orang mukmin adalah bagian dari sebuah hadiah. Rasulullah SAW bersabda:
تحفة المؤمن الموت

“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)
Nabi SAW menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Ketika kita sudah mengetahui bahwa kematian orang yang kita cintai, mungkin saja adalah sebuah hadiah dari Allah SWT, lalu tidak ada gunanya bagi orang yang ditinggal mati meratapi dan berkeluh kesah. Karena jika yang meninggal gembira menerima hadiah, tentu tidak pantas kita menangisinya.
Sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintainya, maka tidak ada pelajaran yang paling baik kecuali kisah Ummul Mukminin, Ummu Salamah ra.
Dalam sebuah hadits shahih yang bersumber dari Ummu Salamah, ia berkata:

”Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Tidak ada seorang hamba pun yan ditimpa musibah lalu mengucapkan: Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Allahumma jurnii fii mushibatii wakhluflii khairan minhaa. (Sesungguhnya kami milik Allah, kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku lantaran musibah yang menimpaku ini dan berikanlah ganti kepadaku dengan yang lebih baik dari musibah ini). Kecuali Allah akan memberinya pahala lantaran musibahnya dan akan mengganti musibahnya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Ummu Salamah berkata: ”Ketika Abu Salamah (suaminya) wafat, aku berdoa sebagaimana perintah Rasulullah padaku, dan ternyata kemudian Allah SWT memberiku ganti yang lebih baik daripada musibah itu, yaitu pribadi Rasulullah SAW yang menggantikan kedudukan suaminya dahulu.
Jadi doa yang paling mustajab bagi orang yang ditinggal pergi kekasihnya adalah:

إنا لله و إنا إليه راجعون, اللهم أَجُرْني في مصيبتي و اخْلُفْ لي خيرًا منها.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, Allahumma’ajurniy fii mushibati wa akhlif liy khoiron minhaa

“Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepadaNya, ya Allah berikan aku pahala dalam musibahku ini dan gantikan dengan yang lebih baik darinya.”

Melainkan Allah akan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik. (HR . Muslim)



Inilah Wanita-wanita Luar biasa dalam Alquran ...
  v Siti Hawa, wanita pertama yang Allah ciptakan untuk menemani Adam as. 
Makhluk yang mampu mengemban amanah memberikan ketentraman bagi para suami, melalui pernikahan.
  v    Siti Sarah, wanita cantik yang pertama kali beriman kepada dakwah Nabi Ibrahim. Keteguhan imannya kepada Allah dan ketaatan pada suaminya di uji ketika ia digoda oleh seorang Raja yang kaya raya untuk berzina,tetapi ia tetap berpegang teguh pada keimanan dan keta’atan pada suaminya.
v    Siti Hajar, wanita yang cantik yang terkenal karena keteguhan keiman,ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah. Sehingga hal itu di abadikan oleh Allah dalam salah satu dalam syariat haji. Yaitu, sa’i, berlari-lari kecil antara bukti shofa dan marwa.
v     Asiyah, istri fir’aun. Seorang istri yang sholehah dari Raja dan penguasa yang sangat kejam. Kesolehannya dan keteguhan imannya, membuat ia di tunjuk oleh Allah untuk melindungi Musa kecil dari perintah pembunuhan yang di serukan oleh suaminya sendiri yaitu fir’aun kepada seluruh bayi laki-laki yang lahir pada waktu itu. Dan keimannya kepada Allah sama sekali tidak terpengaruh, walaupun ia hidup dalam lingkungan yang musyrik kepada Allah
v    Ibunda Musa, adalah sosok ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, sangat sabar dalam membesarkan anaknya, walaupun ia harus rela melepaskan anaknya untuk di adopsi oleh asiyah.
v    Ratu Balqis, seorang wanita penguasa yang kaya raya yang dapat menaklukan kesombongan dirinya untuk menerima kebenaran yang datang dari Allah melalui Dakwah Nabi Sulaiman as. Dirinya tidak ragu-ragu untuk meninggalkan kekafiran dan mengikuti dakwah Nabi Sulaiman as, untuk menyembah Allah swt dan hidup sesuai dengan syariat yang ditetapkan oleh Allah.
v    Maryam, adalah satu contoh wanita sholehah yang terlahir dari keluarga yang sholeh, Keluarga yang di abadikan dalam Al Quran melalui surat Ali Imran. Maryam sendiri, di abadikan oleh Allah melalui surat Maryam. Keteguhan dan ketakwaannya kepada Allah dalam menjalani kehidupan membuat dirinya dijadikan contoh oleh Allah untuk kaum wanita pada umumnya.
v     ‘Aisyah, adalah istri Rasulullah saw yang dengan kesabarannya dan keteguhannya bertawakal kepada Allah dalam menghadapi fitnah dan ujian yang sempat melanda rumah tangga yang disebarkan oleh kaum munafiq pada waktu itu. Keteguhannya dan kesabarannya diabadikan oleh Allah yang bisa kita temukan dalam surat Annur ayat 11 -14, yang sekaligus membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan yang tidak benar terhadap dirinya ...